Sembilan hari lagi tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2018 nanti, Negara Republik Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan ke- 73 Tahun. Hampir saja satu abad Negara tercinta ini merdeka, dengan jumlah presiden sebanyak 7 orang. Presiden pertama Sukarno, Presiden Kedua Suharto, Presiden Ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden keempat Abdurrahman Wahed Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri, Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Ketujuh Joko Widodo, Siapa Presiden Negara Republik Indonesia kedelapan dan seterusnya, hingga Presiden keseratus ?.

Pastinya setiap lima tahun presiden Negara Republik Indonesia akan berganti lewat pemilihan umum, langsung, umum, bebas dan rahasia(Luber). Hari ini menejelang Pemilu Presiden, sudah menjadi buah bibir masyarakat kita melahirkan diskusi-diskusi tentang siapa presiden selanjutnya. Tentunya kita masyarakat Indonesia yang sejatinya sebagai warga negara yang mempunyai hak untuk memilih ada pilihan masing-masing untuk presiden kedelapan di Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Saya sendiri sebagai warga negara yang baik pada setiap bincang-bincang dengan teman-teman, pasti saya mengatakan, saya akan pilih presiden yang mampu memberi perubahan untuk rakyat dan mampu menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia ini. Tentunnya Anda bertanya perubahan apa ini?. Nah pada artikel ini saya ingin mengatakan presiden pilihan saya adalah Presiden Indonesia yang bisa merubah rakyat Indonesia dari konsumen menjadi produsen, hanya sebatas itu saja.

Dari beberapa presiden yang telah memimpin negara dengan jumlah penduduk terbanyak ini, belum terlihat tanda-tanda gerakan perubahan rakyat Indonesia menjadi produsen bukan lagi menjadi konsumen produk negara-negara maju. Kita akui atau tidak, bahwa hari ini kita masih menjadi konsumen negara-negara maju dari banyak produk kosumsi, produk pemakaian dan produk teknologi, serta kesehatan. Jika kita mengatakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) tidak mampu, itu salah besar, karena otak orang-orang di negara maju atau negara produsen sama besarnya dengan otak rakyat Indonesia. Coba Anda belah otak mereka lalu letakkan di atas meja dengan otak kita akan terlihat sama besar.

Bicara Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia di Negara kita tercinta ini luar biasa potensial dan lebih besar dari sumber daya alam yang tersedia di negara-negara maju. Menjadi pertanyaan kenapa kita masih saja menjadi konsumen?. Apakah karakter bangsa Indonesia Raya ini harus revolusi atau presiden keseratus yang akan merubah rakyat Indonesia menjadi produsen produk untuk dunia?.

Diartikel 100 Presiden ini, saya menoleh beberapa sektor yang selama ini kita menjadi konsumen dunia, bukan produsen dunia. Sektor pertanian, kebijakan Harga Enceran Tertingi (HET) sejumlah komunitas pangan, ini akan membuat petani kita malas bercocok tanam, akibatnya produksi sektor pertanian kita berkurang. Bahkan tidak cukup untuk menutupi kebutuhan dalam negeri, sudah pasti di sektor pertanian kita menjadi konsumen produk pangan dari luar negeri untuk menutupi kebutuhan rakyat kita, sementara kita adalah negara agraris.

Kesehatan masyarakat, pesakit orang Indonesia (Konsumen), pengobatannya ke hospital-hospital luar negeri (Produsen) sebagai tempat berobat orang Indonesia. Hal ini sering terjadi di daerah saya, Provinsi Aceh misalnya. Sakit di Indonesia giliran mencari kesembuhan ke Hospital luar negeri. Jika pesakit mempunyai kekayaan harta benda, tanah, ternak, mereka rela menjualnya untuk mencari kesembuhan ke Hospital luar negeri. Bahkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) rela menempatkan SK PNS sebagai angunan Bank untuk mendapatkan uang sebagai biaya untuk berobat ke Hospital luar negeri. Berapa besar uang Indonesia kita habiskan ke luar negeri?. Pembangunan hospital besar dengan ahli medis dan peralatan medis yang profisional harus segera terbangun di setiap regional di Indonesia.

Masih menyangkut ruang lingkup kesehatan, tentang suplimen makanan organik yang menjanjikan kita sehat dengan organik. Kita juga menjadi konsumen produk-produk berlebel organik produsen luar negeri yang merambah di tengah-tengah masyarakat kita dengan embel-embel Multi- Level Mareketing(MLM), dapat mobil kek, dapat rumah kek, dan dapat berwisata ke luar negeri pada level tertinggi. Tidak kita sadari bahwa di sekeliling rumah kita terdapat banyak makanan organik yang dapat kita usahakan sebagai suplemen makanan yang sehat, dan ini juga butuh pemberdayaan dari Pemerintah Indonesia melalui bidang terkait.
Bidang teknologi, saya ingin sekali menggunakan ponsel bermerek asli Indonesia bukan sembling alias mesin dari China rakit di Indonesia, tetapi saya ingin produsen asli Indonesia, part Indonesia, casing juga Indonesia dan merek juga Indonesia, misalnya Ponsel merek “SYAMAUN” atau Merek “CIMAHI”. Di bidang teknologi, kita juga masih sebagai konsumen.

Source Iamage

Begitu juga dengan produsen makanan dan minuman, kita hari ini juga masih sebagai konsumen, misalnya ayam goreng masih kosumsi ayam goreng berlebel luar negeri, padahal yang di goreng itu adalah ayam kita. Kita konsumen makanan. Kenapa kita tidak lebih mengutamakan produk-produk dalam negeri yang kualitasnya sama dengan produk luar negeri. Misalnya Ayam Goreng Pak Samat, atau Ayam Penyet Pak Ulis. Wirausaha Indonesia harus hidup untuk membuka produk makanan menjadi produsen di negara maju seperti Ayam Penyet RIA setahu saya sudah ada cabang di luar negeri. Prosusen makanan Indonesia ini harus dikembangkan oleh Pemerintah Negara ini, karena negara kita kaya kuliner.

Banyak produk-produk yang kita gunakan sehari-hari berasal dari luar negeri, mainan anak-anak produk luar negeri. Anehnya, seperti kita makan sate kambing hasil peternakan Indonesia, giliran tusuk sate dan congkel gigi, apakah kita harus menggunakan tusuk sate atau congkel gigi made in luar negeri. Padahal di negara kita punya potensi bambu sebagai bahan baku untuk membuat tusuk sate atau dongkrak gigi… he he he he.

Source Image

Masih banyak produk yang kita gunakan hasil produksi negara maju, dan kita masyarakat Indonesia menjadi konsumen setia. Untuk merubah ini kita menjadi produsen dunia, apakah masih ada bahasa “Bukan semudah membalik telapak tangan?”. Atau Presiden keseratus yang mampu menjawab persolan ini. Konsep Indonesia menjadi produsen dunia harus segera menjadi visi-misi Presiden Indonesia selanjutnya, atau saya harus menunggu presiden yang keseratus. Jangan Tunda Bahagia, selagi ada kesempatan, mari kita cintai produk Indonesia dan lestarikan alam Indonesia untuk penghidupan berekesinambungan hingga 100 Presiden. Dirgahayu Republik Indonesia Ke-73.

By: @ilyasismail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *