Bak Peng Gadoh Janggoet…..

Bak Peng Gadoh Janggoet…..

(Sama uang hilang janggut)

Menoleh makna yang tersirat dalam hadih maja Aceh yang saya sebutkan di atas, mengandung sindiran terhadap orang-orang yang serakah, meski hadih maja ini sedikit menggelikan, akan tetapi kata bijak ini masih segar terdengar diucapkan oleh masyarakat Aceh kepada orang-orang yang rela meninggalkan marwahnya untuk mendapatkan harta dan kesuksesan.

Sebenarnya kata bijak ini telah ada sejak masa penjajahan Belanda di tanah Serambi Mekkah ini. Ketika Belanda melancarkan serangan-serangan politik adu domba untuk memecah belahkan persatuan masyarakat. Belanda selalu memperalat masyarakat dengan uang sehingga orang-orang serakah kala itu rela bekerja untuk kepetingan penjajah, sehingga melahirkan kata bijak Bak Peng Gadoh Janggoet……

Akibatnya orang-orang yang haus untuk mendapatkan nama, harta dan tahta, rela mengabaikan syariat agama, bahkan harus mencaci orang-orangnya sendiri dan menimbulkan permusuhan antar sesama. Secara terang-terangan saling menunding, menyalahkan, sehingga menghancurkan persatuan masyarakat dan perang itu dimenangkan oleh penjajah.

Source Image

Anehnya, ketika membela kepentingan orang lain, bangsa sendiri kita dustakan dengan propaganda murahan. Seharusnya sikap-sikap eforia terhadap persolan orang lain tidak lagi menjadi budaya kita hari ini. Jangan gara-gara dapat sedikit jabatan dan uang recehan yang ditembak oleh Belanda lam peureudee trieng, kita jadikan rebutan.

“Leumo Arong Paya Guda Cot Iku”

(Lembu nyebrang rawa, kuda mengangkat ekornya)

Biarlah orang lain berlomba-lomba merebut harta, tahta dan kesuksesan, biarkan merebut kebahagiannya. Untuk apa kita terus menyibukan diri, sampai-sampai kita engak bisa tidur semalaman memikirkan nasib orang. Bahkan orang-orang dekat yang selalu menemani kita di rumah kita jadikan lawan, karena membela orang lain yang belum tentu mereka membela kita setelah orang-orang yang kita sanjung itu meraih kesuksesan.

Mari kita menoleh sejarah masa lalu, pahit telah kita rasakan, sakit telah menusuk tulang, anyir darah telah kita cium bersama, deraian air mata anak-anak kita belum kunjung kering, lebam-lebam dipinggiran bola mata belum hilang, tatapan kosong masih terpancar. Apakah kita sudah lupa?. Kenapa kita terlalu cepat bergembira, sementara kamboja belum berbunga di pusara.
Perjalanan kita masih panjang teman, jalan- jalan yang berliku belum jauh kita lalui, baru beberapa jembatan yang telah kita lewati, masih jauh jalan ini. Mari kita pegang tangan-tangan anak bangsa untuk menatih mereka agar mereka dapat berjalan menuju singahsana mahligai yang bahagia.

Source Image

“Pakat Nyoe Pakat Jeh, nyang theun roeng na kamoe”

(Ajak ini ajak itu, nanti yang tanggung kita semua)

Kata bijak tersebut telah memberi pengalaman kepada kita, sudah berkali-kali kita menderita karena kita telah termakan bujuk rayu orang lain, sejak dulu kita selalu saja di rayu-rayu dengan bahasa yang sangat manis, dengan janji palsu, ujung-ujungnya kita selalu tertipu. Sabe-sabe keunong peungoet han jra-jra le. Hari ini kita sudah sudah seharusnya bijak dan pintar, kita harus cerna mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang manis dan mana yang pahit, jangan asal telan. Bek lagei urueng uet aneuk seutoe, akhe buet meuciret teuk. (jangan seperti orang menelan biji buah sutui, banyak ditelah akhirnya mencret). Lebih baik kita merasa, jangan jadikan perselihan antar sesama. Dan Jangan Tunda Bahagia.

By: @ilyasismail

Please Follow Me in Steemit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *