Tanggungjawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)  dapat digunakan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pemicu minat generasi muda untuk bekerja, dan menciptakan lapangan kerja di bidang pertanian. Selama ini lulusan perguruan tinggi khusunya Fakultas Pertanian cendrung lebih kepada pencari kerja daripada pencipta lapangan kerja. Sehingga kenyataannya penumpukan lamaran sangat jelas terlihat ketika sebuah perusahaan membuka lowongan kerja yang akhirnya tidak dapat ditampung semuanya oleh sebuah company itu karena penerimaan tenaga kerja terbatas.

Saya mencontohkan di daerah saya Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia, dua tahun silam ketika PT. Medco E&P Malaka membuka lowongan kerja untuk dipekerjakan di Block A, Aceh Timur. Kala itu jumlah pelamar mencapai 10 ribu orang, sedangkan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan migas itu hanya 40 orang saja dari putra-putri Aceh. Akibat banyak tidak mendapat kesempatan kerja di proyek vital itu, berujung terjadinya komplin dari berbagai kalangan. Komplin dan kemelut penerimaan tenaga kerja juga dialami oleh perusahaan menkon dan subkon PT. Medco kala itu.

 

Seandainya generasi muda daerah kita ini, lebih giat mengerjakan sektor pertanian menjadi lapangan kerja yang menguntungkan, tentunya tidak berkusu-kusu para serjana dan tamatan Sekolah Menengah Kejuruan bersusah payah menyiapkan berkas lamaran untuk lowongan kerja di perusahaan Migas tersebut, yang ujung-ujungnya map berkas lamaran generasi kita itu menjadi isi tong sampah.

 

Karena Provinsi Aceh sebuah provinsi di Indonesia yang sangat minim sektor industri dan perusahaan raksasa, maka puluhan ribu berkas lamaran juga terbuang sia-sia ketika lowongan kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dibuka oleh Pemerintah. Bahkan dewasa ini banyak generasi Aceh yang rela bekerja sebagai buruh bakti dengan gaji yang sangat minim, bahkan kebanyakan buruh bakti di instansi pemerintah tidak bergaji. Jika kita melihat profilnya rata-rata mereka mempunyai ijazah kelulusan DI, DII, DIII dan S1, tapi sayang rela menjadi buruh yang tak bergaji.

 

Bayangkan jika sektor pertanian tanah rencong nan subur ini dapat diupayakan oleh genarasi kita, sungguh rakyat Provinsi Aceh ini akan hidup sejahtera dan makmur dan mereka akan muak bergantung dan berharap menjadi seorang PNS atau karyawan perusahaan swasta yang bekerja penuh tekanan. Saya ingin mencontohkan masyarakat kawasan Brastagi Sumatera Utara, dengan luas kebunya 2 rante (800 m2) mampu menyekolahkan anaknya kebangku Universitas ternama di Indonesia atau ke luar negeri. Masyarakat kita di Aceh luas kebunnya mencapai 10 hektar, sebahagian anak pengusaha kebun itu harus terpaku menjadi pengangguran kelas berat, dan kebun ayahnya akan roboh seiring usia renta orang tuanya, kebun pun menjadi belukar.

 

Solusi agar sektor pertanian dapat menjadi lapangan kerja bagi generasi muda Aceh, maka yang pertama harus dilakukan adalah merubah pola pikir generasi kita tidak takut bergelimang dengan lumpur, rasa negatif ini harus kita hapuskan dari benak generasi kita melalui sosialisasi atau motivasi kepada thingking positif. Sehingga generasi muda Aceh mencintai bau lumpur sawahnya sendiri sebagai mata pencarian atau lapangan kerja untuk meraih kesuksesan. Sebagai dukungan untuk menciptakan generasi kita menjadi wirausaha sektor pertanian, maka sentuhan CSR perusahaan yang beroperasi di Aceh, harus segera dikucurkan untuk Sekolah Menengah Kejuaruan, dalam rangka menyiapkan fasilitas dan sarana praktek sebagai pendukung peningkatan SDM para siswa/i agar benar-benar siap menjadi generasi wirausaha di sektor pertanian.

 

 

Pada artikel ini saya mencontohkan, seperti PT. Medco E&P Malaka yang beroperasi di Blokc A, Aceh Timur, di sekitaran proyek Blokc A ada satu sekolah SMKN 1 Indra Makmur. Sekolah Kejuruan khusus sektor Pertanian, Perkebunan dan Peternakan ini membutuhkan CSR Perusahaan tersebut secara kontinyu untuk peningkatan fasilitas laborotorium pertanian holtikultura, perkebunan dan Peternakan, serta tenaga pengajar profisional. Dan ini semua dapat diupayakan dengan dana CSR Blok A, karena lokasi sekolah tersebut masih sekitaran tambang. Apabila perlu SMKN 1 Indra Makmur menjadi anak angkat atau binaan PT. Medco E&P Malaka, secara kontinyu dan konsiten.

 

Penulis mengakui, selama ini PT. Medco E&P Malaka telah mencoba bekerjasama dengan SMKN1 Indra Makmur terkait hal itu, harapan kita kerjasama yang telah terjalin ini berlanjut dengan pengadaan fasilita yang lebih lengkap lagi. Penulis juga tidak mengatakan kepada PT. Medco saja, namun banyak perusahaan lainnya di Provinsi Aceh, termasuk perusahaan perkebunan PTPN, BUMN, PLN, FIF Group dan lain-lainya, yang berkewajiban mengeluarkan dana sosial atau CSR mereka untuk meninggkatkan SDM  generasi Aceh menjadi wirausahaan sektor pertanian, sehingga mereka setelah lulus dari sekolahnya atau kuliahnya dapat menjadi generasi yang profisional untuk menciptakan lapangan kerja sendiri di tanah warisan orang tuanya.

By :@ilyasismail

 

SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *