Sore itu, ketika saya sedang menikmati secangkir kopi bersama keluarga di Bejee Coffe, salah satu warung kopi yang paling nyaman dan dan santai di bilangan Kota Idi Rayeuk, Ibukota Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia. Tiba-tiba sebuah pesan Whatsapp yang berisi gambar screenshot linimasa facebook Ayah Didin, yang di kirim oleh teman saya Mulyadi Bintang Bahagia, masuk ke ponsel Android ku. Tertegun sejenak ketika membaca linimasa facebook Ayah Didin, yang menulis tetang diri saya dengan judul “Satu Kenangan Seribu Rasa..”.


Bersama Aceh Didin Menjadi MC Event Fun Bike Aceh Timur Bereh Pertama di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia.


Ayah Didin adalah teman saya, dulu kami berdua adalah penyiar di Lembaga Publik Lokal Swara Cempala Kuneng 101,7 FM Aceh Timur. Ayah Didin bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Aceh Timur, beliau sangat dikenal sebagai penyiar radio dan presenter event-event olahraga degan suara khasnya. Pria bernama asli Saiful Amri alias Ayah Didin alias bung Didin alias Didin Prawira itu, adalah sosok lelaki yang telah berkecimpung di dunia penyiaran radio sejak tahun 1990. Awal karirnya di tahun sembilan puluhan, ayah Didin dikenal di Aceh Timur sebagai penyiar di Radio Bianglala Kota Idi Rayeuk. Dendangan malam, lagu-lagu nostalgia dan motivasi cinta menjelang tidur adalah acara favorit sang penyiar tua itu.


Siaran Bersama Ayah Didin dalam acara Hiem Aceh Koh Lipah Pula Lipah


Pada tahun 2013, ketika Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Swara Cempala Kuneng, milik Pemerintah kabupaten Aceh Timur, mulai mengudara di Gedung SKB Idi Rayeuk, Aceh Timur. Saya bersama beliau membuat beberapa program unggulan untuk menyapa dan memberi seribu rasa kepada seluruh rekan setia 101,7 FM Swara Cempala Kuneng di seluruh pelosok Aceh Timur dan sekitarnya.


Talk Show Dengan Awak Media, Muhammad H. Ishak (Wartawan harian Waspada) dan Iskandar Ishak (Wartawan KBAone)


Banyak kenangan saya bersama Ayah Didin ketika kami masih sebagai penyiar di Radio Swara Cempala Kuneng (SCK) 101.7 FM, seperti yang ditulis di linimasa facebook Ayah Didin, “Satu Kenangan Seribu Rasa…” Kami mulai mulai menyapa masyarakat Aceh Timur pada April 2013. Awalnya saya dipercayakan oleh Pemerintah Aceh Timur sebagai Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Public Lokal (LPPL) Radio Swara Cempala Kuneng, saya juga diberi kesempatan oleh Direktur untuk membawa beberapa mata acara. Antaranya, acara Hiem Aceh (teka-teki Aceh) setiap Minggu malam, Hallo Aceh Timur Bereh setiap Senin Malam, Sejarah Aceh setiap Rabu Malam, Hallo Polisi setiap Jumat petang, dan Selamat Pagi Aceh Timur setiap Senin Pagi.


Siaran Pagi Selamat Pagi Aceh Timur


Ruang studio 4 x 4 meter ditemani sebuah layar monitor komputer, pesawat telpon, microphone phantom dan sebuah mixer, di sana kami menyapa para pendengar di seluruh Aceh Timur. Terkadang saya harus ketawa sendiri ketika mengucapkan lantunan “Koh Lipah Pula Lipah” dengan berbagai irama lagu sebagai pasword untuk bertanya atau menjawab hiem Aceh, hadirnya tawa dan lelucon berbagai Hiem Aceh yang dilontarkan oleh para pendengar melalui panggilan telpon membuat saya betah membawa acara tersebut, bahkan saya jarang absen.
Manfaatnya yang saya peroleh selama dua tahun saya bertugas sebagai pembawa acara Hiem Aceh. Saya dapat mengumpulkan ratusan judul hiem Aceh, yang kini masih saya simpan dalam sebuah folder di komputer saya. Rencananya suatu saat nanti ratusan hiem Aceh itu, akan saya tulis dalam sebuah buku berjudul Kumpulan Hiem Aceh, “Koh Lipah Pula Lipah”.


Siaran Berita Aceh Timur


Sedangkan Senin malam saya harus berkata-kata cerdas dengan berbagai tema mengajak pendengar untuk interaktif di akhir wawancara dengan narasumber yang hadir di studio. Deringan telpon dari masyarakat menyampaikan apirasi mereka pada acara interaktif Hallo Aceh Timur Bereh itu juga termotivasi diri saya pribadi untuk lebih peduli dan mencintai setiap jengkal tanah kelahiran saya Aceh Timur. Pagi Senin dalam acara Selamat Pagi Aceh Timur, Kata Maja Aceh menjadi ulasan saya sebagai bahan motivasi pembangkit semangat pagi masyarakat dalam memulai aktifitasnya di pagi hari.


Acara Hallo Polisi Bersama Kasat Lantas Polres Aceh Timur


Saya bersama Pak Is Nyak Man tokoh pengiat sejarah dari Komunitas Sejarah Aceh Seurayung, kami mengulas sejarah Aceh dari bab ke Bab, kepada pendengar. Di penghujung acara itu kami juga memberi keempatan kepada pendengar melalui penggilan telpon untuk mengajukan pertanyaan seputar sejarah Aceh dan seusi tema yang kami sampaikan pada malam itu.


Bersama Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Timur Bapak Jalaluddin dalam acara Hallo Aceh Timur Bereh


Profesi sebagai penyiar tidak cukup di ruang studio saja. Untuk menabah pengetahuan dan pengalaman di dunia penyiaran, saya juga kerab mendapatkan ksempatan untuk melaporkan langsung kegiatan pemerintah di hampir seluruh penjuru Kabupaten Aceh Timur. Berbekal sebuah ponsel Samsung lipat dan paket Telpon Sempati Ampuh, bersama Bung Didin dan rakan saya Ahmad yang bertugas di studio, saya kerap melakukan laporan siaran langsung, baik itu acara serimonial Pemerintah atupun laporan peristiwa yang terjadi dalam wilayah Aceh Timur. Bahkan setiap pagi saya juga harus menjadi reporter harga pasar dengan laporan live harga kebutuhan di pasar tradisional Aceh Timur.


Acara Sejarah Aceh SCK, bersama Tokoh Pengiat Sejarah Aceh Seurayung, Bapak Is Nyak Man.


Pekerjaan sebagai penyiar radio Swara Cempala Kuneng, 101,7 FM, aalah pekerjaan sampingan saya kala itu. Sebenarnya saat itu saya punya tanggungjawab besar sebagai seorang wartawan koran Harian Rakyat Aceh (Jawa Pos Group). Tetapi dengan semangat 45, saya tetap dapat membagi waktu sebagai penyiar radio dan sebagai seorang wartawan di koran harian, yang setiap harinya harus menyampaikan 3 sampai 5 berita ke meja redaksi.


Talk Show Bersama Ketua PNPM Mandiri Aceh Timur


Bagi saya profesi sebagai penyiar radio dan MC pada event-event besar merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan itu hobbi saya. Tapi sayang profesi yang saya sukai itu tidak bertahan selamanya, dan saya sejak tahun 2016 tidak mendapat lagi peluang sebagai penyiar hingga hari ini, Radio SCK Aceh Timur telah patah tiang pemancar dan telah vakum hampir satu tahun.


Mc Acara Hiem Aceh SCK di depan Stand Pameran Pembangunan Kabupaten Aceh Timur di Pusat Pemerintahan setempat beberapa tahun lalu


Banyak fans saya menelpon, mereka bertanya, “ Bang Lias kok engak nyiar lagi?,” saya menjawab Radio telah di sambar petir, kebetulan sebulan setelah tidak lagi bergabung dengan Radio SCK, kondisi radio sempat vakum selama beberapa bulan karena di sambar petir. Sekarang Radio milik Pemerintah Kabupaten Aeh Timur itu masih dalam kondisi mati setelah tiang towernya tumbang sajak bulan Desembar 2017 lalu diterjang angin. Akibatnya Bung Dindin atau Ayah Didin, teman saya selama ini hanya menjadi pembawa acara di event-event olahraga besar saja, dan kami sering ngopi bareng di Kota Idi.


Bersama penyiar Hamdani saat melaporkan hasil pertandingan Pekan Olahraga Aceh (PORA) 2014. Saya menggunakan kacama hitam karena saya sakit mata kala itu.


Mana tahu di usia saya 47 tahun ini, masih ada yang mau mengajak saya menjadi penyiar radio. Hari ini saya masih menyandang profesi wartawan di beberapa media online. Dan hari ini dengan semangat 45, saya juga aktif sebagai creator konten pada platform steemit.com. Apapun suasananya dalam dunia steem Blockchain, saya harus tetap bertahan untuk menuangkan segala kreatifitas di platform ini. Harapan saya, jika benar seperti yang ditulis dalam linimasa facebook Ayah Didin, berjudul “Satu Kenangan sejuta rasa…”. Saya mengharapkan dukungan teman-teman semua untuk mencapai cita-cita mulia ingin membangun tanah kelahiran saya melalui ide-ide cerdas untuk sejuta Rasa Bahagia.

SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *