Nasehat Memilih Jodoh Dalam Hadih Maja Aceh

Tangieng puteh koen bak beudak, tangieng lagak koen bak boh pha
(Melihat putih bukan dibedak, melihat kecantikan itu bukan di paha)

Hadih maja yang saya tulis di atas jarang Anda dengarkan, karena hadih maja tersebut merupakan hadih maja Aceh yang baru saya rangkai dengan dua bait. Hadih maja tersebut mengandung makna yang mendalam untuk memilih calon pasangan hidup. Makna yang terkandung pada bait pertama “Tanging puteh koen bak beudak”, jangan melihat kecantikan itu hanya pada warna kulit saja, tetapi lihatlah kebaikannya, tingkah laku, sopan santun, dan budi pekertinya, niscaya akan membahagiakan.
Dibait kedua ”Tangieng lagak koen bak boh pha” mungkin Anda menilai kalimat bak boh pha (Paha) sangat tidak etis, akan tetapi saya menggunakan kalimat tersebut tidak bertujuan vulgar, niscaya makna yang terkandung untuk menasehati agar tidak mengarah dalam melihat calon istri atau calon suami itu dengan nafsu. Nafsu itu akan membahayakan.
Orang-orang yang melihat dengan pandangan nafsu akan tertipu yang berujung kepada malu (membahayakan), karena pandangan nafsu adalah pandangan yang bersumber dari godaan syaitan, sehingga akan terjerumus kepada keburukan dan dosa. Orang-orang yang memilih pasangan hidupnya dengan landasan nafsu, mereka menuai kebahagian yang palsu hanya berorientasi kepada seks semata.
Di bawah ini penulis juga akan melampirkan hadih maja lama yang mengandung nasehat untuk melihat colon istri. Hadih maja ini setengah pantun karena terdiri dari empat bait.

Tae boh kayee watei meubungoeng, Takalon inong bek saja rupa, Caroeng inoeng ceudah jimeuguen, Beujroh perangui malem agama
(Lihat pohon berbuah waktu berbunga, Melihat calon istri jangan saja wajahnya, Pintar perempuan bagus saat berpakaian, Bagus budinya alim agamanya)

Taaruf yaitu melihat calon istri atau calon suami secara Islami, sudah menjadi hal yang sangat penting untuk mengetahui calon istri atau calon suami sebelum menikah, hal ini akan kita lakukan dengan cara komunikasi dengan mencari tahu, akan tetapi tidak bertentangan dengan hukum syariat Islam. Jika kita dengan niat yang baik dan bukan melihat dengan nafsu, niscaya cara berkomunikasi pun sesuai dengan tatanan syariat Islam.
Hakikatnya kita umat Islam selalu berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah SAW, dalam situasi apapun, termasuk dalam melihat seorang calon istri, seperti Hadis Nabi, “Perempuan itu dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama (salehah) semoga engkau selamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang lelaki yang hendak menikah seorang perempuan, harus melihat perempuan itu yang beragama dengan baik (saleha),perawan, subur, cantik dan dari keturunan yang baik. Tetapi jika mengedepankan nafsu akan timbul kesalahan-kesalahan yang tidak logis, bahkan yang baik menjadi buruk. Cendrung menghina pasangannya, sehingga menimbulkan kata-kata yang menyakitkan, seperti hadih maja di bawah ini:

Meuri-ri tika nyang jiduek pijet, meuri-ri saket nyang alo ala, meuri-ri urueng juet tapoh bandet, sebab ladom phiet ladom bee banga
(Tidak semua tikar ada kutu busuk, tidak semua sakit yang harus aduh-aduh, tidak semua orang bisa kita pukul bandit, karena ada yang rasanya pahit dan ada yang bau apak)

Bahasa sindirin bau badan, tidak enak masak akan terucap jika seseorang melandaskan nafsu dalam menjalin hubungan rumah tangga. Tetapi jika kita landaskan dengan keikhlasan hati tulus yang buruk akan sirna dan muncullah kebaikan dengan saling memperbaiki. Jika pasangan sama-sama didasari ketulusan otomatis ingin memberi yang terbaik kepada pasangannya, dan keduanya akan menerima kekurangan dan bersyukur kelebihan keduanya.
Intinya, kita terus berusaha untuk mencari yang terbaik, dan jangan sekali-kali anda memilih pasangan hidup Anda itu atas dasar nafsu birahi. Karena nafsu selalu ingin diberi dan cendrung dalam kerugian dan menyesatkan dan hingga jatuh kehubungan sek pra nikah yang hukumnya haram dan dosa.
Orang-orang yang memilih pasangan untuk pendamping hidupnya dengan tulus dan ikhlas dan meilhat budi pekerti dan Agamanya akan menjadikan mahligai rumah tangga menuju kebahagian yang sejati dan saling menyayangi pasanganya. Kebaikan akan selalu ingin memberi, nafsu akan selalu ingin diberi. Jangan Tunda Bahagia, Senantiasa berbahagia dan bersyukurlah.

By : @ilyasismail

SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA

Please Follow Me in Steemit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *