Pagi itu, Sabtu (9/6/2018), Saifuddin sang mahout Bunta nama gajah jinak di CRU Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia, bersama beberpa mahout lainya melangkah pelan-pelan menuju tempat lokasi biasa Bunta di ikat. Kira-kira jarak lebih kurang 600 meter dari camp penginapan para mahot gajah jinak yang bekerja di CRU tersebut. Saifuddin dan temannya tidak menaruh curiga, seperti biasa setiap pagi mereka harus memindahkan empat gajah jinak yang bertugas di Conservation Response Unit(CRU) tersebut ke lokasi lainya. Saifuddin dan mahout lainnya sangat terkejut ketika melihat Bunta (Gajah Jantan) kesayangannya itu telah mati terkapar dengan kondisi satu gading telah di tanggalkan, dan meninggalkan luka dan darah yang masih mengalir di kepalanya.

Anggota Satuan Reskrim Polres Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia, saat memperlihatkan gading Bunta yang telah dimankan. (Foto : @ilyasismail)


Ketika Saifuddin melihat kondisi Bunta yang telah terkapar, Tak tahan, Saifuddin dan mahout lainnya langsung saja menangis melihat kondisi Bunta. Kejadian kematian Bunta  satu induvidu gajah jinak itu. langsung saja mereka laporkan ke pihak berwajib dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Bunta adalah satu induvidu gajah jinak dari empat gajah  jinak lainnya yang selama ini bertugas di CRU Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia, untuk menghalau gajah liar yang mengganggu kebun milik patani dalam wilayah Aceh Timur.

Seharusnya, manusia yang memiliki akal dan pikiran yang cerdas, tahu bahwa Bunta gajah jinak berumur 27 tahun itu, selama ini mengabdi untuk manusia bertugas mengajak teman-teman sehabitatnya yang masih hidup liar di hutan belantara Aceh, Indonesia, untuk tidak mengganngu perkebunan tempat manusia mencari rezeki. Meski Bunta bukan terlahir dari rahim manusia, namun tugasnya dan pengabdiannya membela kehidupan manusia telah di jalaninya selama bertahun-tahun di hampir seluruh CRU yang ada di belantara Aceh, Indonesia.

Inilah Mangga beracun yang di makan Bunta hingga dirinya mati. Source Image


Menurut kisah yang berhasil dihimpun oleh penulis, Bunta semasih hidupnya dikenal sebagai seekor gajah jinak yang bandel, namun sayang, ketika dirinya dibunuh dengan cara diracun oleh manusia, Bunta tidak dapat membela dirinya dengan senjata tajam atau senjata api untuk melawan manusia kejam yang hendak meracuni dirinya. Bunta tidak tahu, jika pisang dan mangga yang berikan oleh manusia jahat kepadanya itu telah di taruh racun di dalamnya. Bunta menyantap makanan itu dengan lahap, dan akhirnya Bunta harus merenggang nyawa akibat ulah manusia yang selama ini dibela-belanya dari kawan-kawan sebangsanya.

Ta ubahnya, Bunta adalah sosok binatang penolong ditengah konflik peperangan. Kita ketahui selema ini konflik antara satwa liar gajah dan manusia pemilik kebun di pedalaman Aceh Timur telah berlangsung lama, dan telah banyak menimbulkan kerugian harta benda dari pihak manusia dan juga telah menelan korban nyawa dari pihak gajah liar. Kehadiran Bunta dan teman-temannya di CRU Serbajadi Kabupaten Aceh Timur, sejak tahun 2016 bukan sebagai musuh manusia, tetapi mereka di tempatkan di sana untuk menyelamatkan manusia dari konflik satwa yang terjadi selama ini.

Gading Bunta yang telah berhasil diamankan Pihak Kepolisian Polres Aceh Timur. (Foto :@ilyasismail)


Ternyata, kondisi berkata lain, Bunta sebagai pengemban tugas mulia yaitu sebagai tim perdamaian konflik gajah liar dengan manusia di pedalaman Kabupeten Aceh Timur, akhirnya harus mati diracun oleh manusia. Sungguh serakah sang manusia pembunuh Bunta, ketika ingin memenuhi nafsunya untuk mendapatkan gading, manusia serakah itu rela membunuh Bunta dengan cara meracunya. Seandainya teman-teman Bunta lainnya bisa bicara, mereka  pasti akan berkata, “Goet Kamoe Pubuet Broek Meunalah, Nyan Ban Seurakah di Manusia” (Baik kita buat buruk balasannya, begitulah sifat keserakahan manusia).

Bunta bukanlah manusia, tetapi Bunta selama ini membela manusia dari kelompoknya yang masih liar. Bunta adalah gajah jinak yang berjasa kepada manusia terutama pemilik kebun di belantara Provinsi Aceh. Bahkan bisa dikatakan pengorbanan Bunta yang harus mati di racun adalah pengorbanan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Kini dua manusia pembunuh Bunta bersama gading Bunta 140 cm, telah diamankan di Polres Aceh Timur, untuk menjalani proses hukum.

Bunta Mati Terkapar ditemukan para Mahot di CRU Serbajadi Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh Indonesia. Sabtu (9/6/2018) Source Image


Selama ini penulis telan mengendus dari beberapa kejadian pembunuhan satwa liar gajah di Aceh yang  pernah di tangkap oleh pihak Kepolisian, namun ketika Pengadilan memutuskan hukuman kepada tersangka, sungguh tidak stimpal dengan perbuatannya. Apakah hukuman terhadap pembunuh Bunta kedepan ini akan mendapatkan hukuman berat atau hanya hukuman ringan. Mari kita ikuti proses hukum yang dilakukan oleh pihak penegak hukum NKRI terhadap kasus kematian Bunta di yang terjadi di CRU Serbajadi Kabupaten Aceh Timur. Jangan Tunda Bahagia, RIP Bunta.

By : @ilyasismail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *