Pereulee Dua Neuk Bace, Thot Surabee Saboh Umpung

Sore itu, Aku dan teman-teman sedang asyik membahas seputar Calon Anggota DPR yang akan maju pada Pileg 2019 nanti, tiba-tiba diskusi sengit kami terhenti dengan suara bentakan Apa Seuman,”Politik nyoe… Politik jeh, pue ka kaprak nyan ?,”(Politik ini.. Politik itu, apa yang sudah kalian bicarakan itu?), ujar Apa Seuman seorang kakek yang sedang menikmati kopi di warung tempat kami biasa menikmati kopi sore, di seputaran Kota Idi Rayeuk, Aceh Timur.

 

 

“Menye politik peureulee bace dua neuk, thoet serabeei saboh umpung, bek kajak peugah le, han ek ku deungo,” (Jika politik ingin memancing ikan gabus dua ekor, lalu membakar satu sarang tawon kertas. Tidak usah kalian bicarakan lagi, bosan saya mendengarnya), sambung Apa Seuman dengan matanya melotot ke arah kami semua.

 

Lanjutnya politik Peureulee bace dua neuk, thoet serabeei saboh umpung, sudah capek kami rasakan. “Pue na ketupue di awak kah, padum na rakyat Aceh ka mate, padum le aneuk yatim nyang hana meupat kuburan yah jih, akibat konflik Aceh nyang kaleuh. Soe tanggoeng jaweub nyan?”(Apakah kalian tahu, berapa banyak rakyat Aceh korban nyawa, berapa anak yatim kehilangan ayahnya dan tidak tahu dimana pusaranya, akibat konflik Aceh yang terajadi masa lalu, siapa bertangunggungjawab), tanya Apa Sueman kepada kami.

 

Source Image

 

Repetan Apa Seuman pun tidak berakhir disitu, Ia dengan semangatnya sambil meneguk kopi, dan sepotong pisang goreng yang masih hangat. Apa Seuman mengatakan pengalamannya ketika dirinya ditahan aparat gara-gara salah bawa KTP. “Bak uroe nyan loen jidrop bak razia KTP, bak buru-buro loen jak u keude, roh meuraba KTP ma aneuk miet loen pasoe lam keeh. Pue tatanyoeng teuman, hana sapue pih, rab hanjuet woe” (Pada hari itu saya ditangkap dalam razia KTP, karena buru-buru saya ke pasar jadi salah ambil KTP, saya mengantongi KTP istri bukan KTP saya, hampir saja saya tidak bisa pulang), kata Apa Seuman.

 

Maksud Apa Seuman, kesulitan masa konflik bukan saja di rasakan oleh orang-orang yang pernah pegang senjata, rakyat seperti dirinya juga sulit menjalani kehidupan mas konflik dulu. Secara tak langsung menurut Apa Seuman, rakyat juga termasuk orang-orang yang merasakan efek dari masa konflik Aceh dulu. “Jadi uroe nyoe ka damei Aceh, ka mangat bak takeureuja, adak salah me KTP hana pue, rasa yo hana le. Jadi uroe nyoe payah taingat chiet masa-masa sulit, bek ban ka seunang hana teuingat le keu susah, ban kana jabatan hana teuingat le keu rakyat,” (hari ini Aceh sudah damai, mau kerja pun sudah enak, jika pun salah kita bawa KTP tidak menjadi masalah lagi, dan tidak ada rasa was-was lagi. Jadi ketika sudah senang jangan lupa masa sulit, begitu juga ketika sudah dapat jabatan, jangan melupakan rakyat) repet Apa Seuman.

 

Source Image

Saya mencoba memaknai dari pepatah Apa Seuman. “ Peureulee dua neuk bace, thoet serabeei saboh umpung,”. Kebiasaan anak-anak Aceh saat memancing ikan Gabus = (Bace), menggunakan umpan anak tawon kertas = (Seurabeei). Anak tawon kertas dijadikan umpan dikaitkan di mata pancing, biasanya untuk mendapatkan anak tawon kertas harus membakar seluruh sarangnya, jika kita tidak membakar sarangnya, pasti kita akan disengat saat kita ambil anak tawon kertas (Seurabeei). Jadi gara-gara kita ingin memancing dua ekor ikan gabus, tega membakar satu sarang tawon kertas. Bayangkan dalam satu sarang berapa banyak tawon kertas dan anak-anaknya harus mati terbakar.

 

Jadi saya berpendapat, Politik Peureulee dua neuk bace, thoet serabee saboh umpung, pantas tidak mau lagi di dengan Apa Seuman, karena kurang elok. Rakyat adalah segalanya, jangan butuh rakyat saat musim Pemilu saja, karena untuk mendapatkan jabatan hasil dari suara rakyat. Semoga kedepan rakyat hidup makmur dan sejahtera, tidak menjadi tawon kertas. Jangan Tunda Bahagia.

 

BY: @ilyasismail

Please Follow Me in Steemit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *