Semangat Membangun Daerah dalam Hadih Maja Aceh

Tidak mungkin daerah kita dibangun oleh orang lain, jika kita sendiri tidak mau peduli untuk membangunnya. Bahasa ini rupanya telah diingatkan oleh orang tua kita dahulu dalam bait hadih maja. Seperti hadih maja di bawah ini :

Menye Koen Ie Leuhop Menye Koen Droe Gop
(Kalau bukan air pasti lumpur, kalua bukan kita pasti orang lain)

Makna hadih maja di atas adalah untuk mengingatkan kita semua bahwa kalu bukan diri kita sendiri orang lain tidak mungkin memikirkan nasib kita. Dalam ruanglingkup yang sempait dapat kita artikan, bahwa untuk kebersihan rumah tangga kita sendiri misalnya, tidak mungkin orang lain datang membersihkan rumah kita. Akan tetapi, agar rumah kita bagus, bersih peranan ada pada diri kita sendiri. Begitu juga desa kita, yang membangun desa kita adalam masyarakat kita bukan masyarakat dari desa lain, misalnya, tidak mungkin orang dari Kota Langsa datang membangun desa kita, atau menata rumah kita.

Peranan untuk membangundaerah kita adalah masyarakat kita sendiri. Meski orang-orang datang kerumah kita, atau bekerja di rumah kita, tetapi mereka tetap memikirkan rumahnya sendiri, artinya tidak sepenuh hati memikirkan rumah kita, mereka engan memikirkan penghijuan di rumah kita, memikirkan air agar lancar dirumah kita, memikirkan agar anggota keluarga kita sehat semua, apalagi hal-hal yang lebih mendetil dalam rumah tangga kita, tidak mungkin dikerjakan oleh orang luar.

Meskipun mereka kita gaji di rumah kita, yang pasti mereka bekerja sesuai dengan perintah kita saja, itupun terkadang meuuleu siangen (banyak ularnya), depan kita mereka kerja, belakang kita cepat-cepat naik mobil pulang kerumahnya, untuk memberesin ayunan tempat bermain anaknya dirumahnya agar anaknya bisa bermain dengan senang. Yang sangat jelas harus kita kerjakan sendiri untuk membangun dan menata rumah kita sendiri teramsuk ayunan anak kita, agar anak kita dapat bermain dengan gembira.


Source Image


Jika orang luar yang bekerja di rumah kita sudah pasti mereka punya batasan waktu, misalnya jam 8 pagi masuk kerja, meski mereka kita kasih kendaraan untuk datang bekerja, tetapi mereka patang harinya pada pukul 16.00 wib, mereka harus pulang kerumahnya masing-masing, seusuai dengan waktu kerja yang telah ditentukan.

Pemilik rumahlah mempunyai rasa memiliki dan punya tanggungjawab 24 jam untuk memberesin rumah dia sendiri, apa yang kurang dapat kita selesaikan diwaktu yang senggang. Misalya, jika halaman rumah kita gersang, sudah pasti waktu luang kita gunakan untuk menanam beberapa pohon agar anak-anak kita dapat bermain ditempat yang teduh. Jadi saat anak kita main mobil-mobilan tidak kepananasan, jalan-jalan masuk rumah kita bersihin agar pemandangan lebih indah dan hal-hal lainnya.

Nah jika kita orang kaya misalnya punya mobil dirumah, ketika ada tetanga kita yang sakit, sudah pasti dengan mobil kita dapat membawa tetanga kerumah sakit, dan dapat mengangkut warga kampung untuk acara takziah kekampung lain, dengan mobil kita.Tetapi jika mobil milik kita, lalu dibawa orang lain atau pekerja kita kerumahnya, ketika ada tetangga sakit, tidak dapat kita mengantarnya ke rumah sakit, rugilah tetangga punya mobil. Jika kita menggunakan mobil orang kampung lain, sudah pasti kita harus bayar atau mengisi BBM, tatapi kalau mobil tetangga ada hubungan sosial yang melekat.

Pada intinya, jangan mudah mendukung orang lain, tapi dukunglah putra/ putri daerah kita, agar mereka selalu dekat dengan kita. Jika pun putra daerah kita menjadi orang besar diluar daerah, sudah pasti dia akan pulang kedaerah kita untuk membangun tanah kelahiranya.

Hana meugruk-gruk, beuna meugrek-grek
(Tidak meugruk-gruk –harus ada meugrek-grek)

Sulit kita artikan hadih maja tersebut kedalam bahasa Indonesia, gruk-gruk dan grek-grek kata bunyi dalam bahasa Aceh. Gruk-gruk bunyi besar, kalau Grek-grek bunyi kecil. Jadi daripada sama sekali tidak ada bunyinya, lebih baik ada bunyi kecil. Maksudnya jika putra daerah kita sendiri tidak peduli semuanya, hal kecil akan dipedulikan oleh putra daerah kita sendiri. pengalaman telah banyak mengajarkan kita sejak Aceh penghasil Migas dulu, Sejak Kayu Aceh dulu ditebang di hutan Aceh siapa yang nikamti hasil?.

Untuk itu mari kita percayakan orang kita sendiri, mari kita dukung orang kita sendiri dalam segala hal, agar mereka dapat memperjuangkan desa kita, daerah kita dan Provinsi kita sendiri. Jangan Tunda Bahagia, Berbahagialah Senantiasa, dan bersyukurlah.

By : @ilyasismail

SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA

Please Follow Me in Steemit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *