Sikap Objektif Dalam Literatur Hadih Maja Aceh

Sikap objektif mempunyai peranan yang sangat luas, sikap ini bukan saja dipegang oleh para peneliti, akan tetapi sikap berfikir objektif telah tertanam dalam setiap diri seorang jurnalis dan penulis, para penjabat pemerintah, tokoh publik dan orang-orang yang melayani masyarakat. Sikap ini telah ada sejak manusia hidup berkomunitas di dunia ini. Dalam masyarakat Aceh sikap objektif juga tertuang dalam hadih maja Aceh.

Peugah Lagee Buet, Pubuet Lagee na
(Bicara seperti perbuatan, berbuat sebagaimana mestinya)

Maknanya, seseorang yang selalu mengamalkan sikap objektif, Ia akan selalu mengesampingkan segala pendapat pribadinya, dan memtingkan kepetingan orang banyak dengan dalih dan fakta yang ada, karena jika merujuk kepada fakta maka lahirlah sebuah pendapat atau gagasan yang mempunyai dasar pemikiran dan selalu berpihak kepada pendapat orang banyak.

Source Image


Orang-orang yang bersikap objektif juga akan berbuat sesuai dengan apa yang telah diucapkannya. Semua ucapannya akan direalisasi dalam sebuah pekerjaan, tidak bicara ini lalu berbuat lain. Seperti kata bijak yang sering di ucapkan orang Malayasia; Cakap tak serupa bikin. Orang-orang yang bersikap objektif juga tidak menutupi fakta sebuah objek yang akan dikerjakannya, sehingga melahirkan sebuah keadilan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan saja.

Tidak lama lagi kita akan melihat banyak orang-orang yang menjadi calon legislatif menjelang Pemilu 2019 dalam kampanye nanti akan banyak bicara. Apakah bicara para calon legislatif adalah bicara secara objektif atau hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Jika calon tersebut nantinya terpilih dan melaksanakan apa yang telah dia janjikan, berarti calon tersebut mempunyai sikap yang objektif, tetapi jika calon tersebut memutarbalikkan fakta berarti seperti kata hadih maja di bawah ini :

Mariet upak apek, olheuh tapeunyoe dudoe tabalek
(Bicara upak apek, sudah bilang ya lalu mengatakan tidak)


Source Becground Image


Seorang caleg saat kampenye nanti akan mengatakan bahwa dirinya pro rakyat dan akan menjalankan tugasnya sebagai pengawas dan perancang peraturan untuk kesejahteraan rakyat. Akan tetapi setelah terpilih semua yang telah diucapkannya itu berputar 100 persen, dan mereka akan berbicara hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, ini sangat tidak objektif. Pada akhirnya duduk dikursi rakyat le teungeut (banyak tidur) alias banyak bodohnya.

Lagee bue teungeut
(Sepeti monyet tidur)

Hadih maja tersebut dikiaskan kepada orang-orang yang tidak mengerti apapun dan tidak suka memperhatikan keadaan yang berlaku disekitarnya. Maknanya Ia akan cuek saja, tidak peduli kondisi yang dibutuhkan oleh rakyat, aturan yang diharapkan oleh masyarakat, dan tak paham apa yang telah dilakukan oleh pemegang kebijakan, alias tuloe (tidak open apapun) yang penting dirinya mendapatkan apa yang diharapkannya.


Source Becground Image


Intinya orang-orang yang selalu bersikap dan berfikir objektif, Ia selalu mengutarakan yang benar dan berpihak kepada masyarakat dan kepentingan orang banyak. Layaknya seorang Jurnalis yang sejak awal telah tertanam pada dirinya cara-cara berfikir objektif, karena seorang jurnalis harus jujur dan netral dalam menyampaikan berita. Begitu juga halnya seorang Polisi dan Hakim, mereka juga juga harus jujur dan terbuka dalam mengadili sebuah perkara. Kaum Ulama dan guru juga harus mengunakan dalil dalam membuat sebuah fatwa. Begitu juga seorang penjabat pemerintah, mereka juga harus objektif dalam melahirkan sebuah kebijakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan kebijakan untuk dirinya sendiri atau memperkaya diri. Semua insan dan semua profesi harus memiliki sikap yang objektif. Jangan Tunda Bahagia, Berbahagialah senantiasa dan bersyukurlah.

**By: @ilyasismail

SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA

Please Follow Me in Steemit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *